Tali Pernikahan




Setiap manusia, pasti ingin menikah. Dengan menikah terjaga dari perbuatan zina. Menikah menyatukan dua insan manusia dengan berbeda watak dan kepribadiannya. Dan penyatuan dua keluarga besar serta terjadi silaturahmi. 

Perjalanan pernikahan yang disaksikan keluarga dan seluruh malaikat ikut memanjatkan doa, langit Allah terbuka dan doa yang dipanjatkan terdengar langsung.

Pernikahan  sendiri diatur dalam beberapa hadis dan Alquran. 

“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu,dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)

“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh 

agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada 

separuh yang lain” (HR. Al-Hakim dan At-Thohawi)


“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu 

sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram 

kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)


Dalam agama Islam, syarat perkawinan adalah : 
(1) persetujuan kedua belah pihak, 

(2) mahar (mas kawin), 

(3) tidak boleh melanggar larangan-larangan perkawinan. 


Bila syarat perkawinan tak terpenuhi, maka perkawinan tersebut tidak sah atau batal demi hukum. 


Sedangkan rukun perkawinan adalah :

(1) calon suami,

(2) calon isteri, 

(3) wali, 

(4) saksi dan 
(5) ijab kabul.

Kadang setelah menikah ada candaan. Gimana setelah menikah. Ada gurauan menyesal kalau tahu begini nikmat kenapa tidak dari dulu menikah. Menyesal ternyata banyak deritanya. Menikah itu tidak mudah, yang mudah hanya ijab kabulnya. Rukun nikah juga harus dihapal dan wakib lengkap semuanya.

Belum harus mengurus persiapan pernikahan dan biaya pernikahan dari masalah mahar dan pesta pernikahan sendiri. Dan bagaimana selanjutnya. 
Selanjutnya kita akan melihat kebiasaan dan prilaku suami atau istri dalam keseharian. Yang kadang tidak kita mengerti dan kita menerima. Rutinitas sehari-hari dan seterusnya akan kita hadapi dan jalani.

Di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang, tidak banyak di antara kita yang sanggup memenuhi kebutuhan rumah tangga yang idel. Dan banyak mungkin kendala dan lapang dada dalam memandang hubungan hak dan kewajiban.

Belum masalah yang harus dihadapi sikap mertua atau ipar yang mengatur dan mencoba masuk dalam kehidupan rumah tangga kita. Masalah anak-anak yang harus dihadapi bersama dan bagaimana pasangan menyikapi dan mendengarkan apa yang terjadi dengan anak-anak. Dan adanya wanita lain atau pria lain yang membuat pasangan tidak nyaman.

Kadang betapa lelahnya rutinitas seorang istri dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Dari memasak, mencuci dan membersikan rumah serta harus merawat anak. Bukanlah hal yang mudah. Apalagi bila sang istri bekerja dan pembantupun tidak ada. Bingung anak harus dititipkan atau dijaga siapa.
Adakah penghargaan dengan mengatakan aku sayang kamu atau I Love you. Bukan hal yang mudah mengatakan hal tersebut. Padahal kata tersebut bukan beban yang berat atau dibayar yang mahal.

Bagaimana hubungan pasangan suami istri bisa bertahan sekian lama ? Bulan, 10 tahun, 20 tahun, bahkan 50 tahun dan tetap setia hanya maut yang memisahkan keduanya ?

Pernikahan sakral disaksikan keluarga dan seluruh malaikat ikut memanjatkan doa, langit Allah terbuka dan doa yang dipanjatkan terdengar langsung. Tapi dalam perjalanan kadang ternoda dengan penghianatan pihak ketiga. Yang kadang berujung dengan perzinahan. Dan mertua hanya bisa menyalah dan tidak berusaha mencari jalan keluar yang terbaik. 

Perjalanan waktu, kadang tidak sempurna. Pertengkaran atau kesalah pahaman pasti terjadi menjadi bagian dari mencari persesuaian kebersamaan. Tapi tiap maaf atau pelukan tanda usai pertengakaran mereka pasti berharap tidak ada pengulangan kesalahan yang sama. Betul kan? Tapi pengharapan itu tampaknya sejauh ini memang cuma pengharapan. Diam dan diam menjadi jalan keluar yang sangat tidak diharapkan. Apa dan mengapa harus diam? Sementara kita dua orang yang saling sayang, pastinya siap diajak bicara kan? Kecuali kita memang sudah saling benci, jadi percuma diajak bicara.

Sekali, dua kali masih bisa tersenyum. Tapi rasanya kok jadi biasa ya ? Tidak ada pembelajaran dan jalan keluar agar tidak terulang lagi.  Atau memang perlu reward and punisment dalam diterapkan diantara pasangan? Tiap kali kejadian itu datang, maka kita sebagai manusia semakin yakin bahwa, ”jangan bergantung pada manusia. Punya alpa dan salah” . Namun ego kadang mengalahkan segalanya.

Jangan karena kekurangan pasangan atau menuntut istri yang sholeha harus taat pada suami. Sementara suami bagaimana ? Menuntut istri yang sholeha tapi kenyataan menonton film blue bagian dari keseharian. Padahal sholat jalan terus. Dan karena kesalahan dan kekurangan pasangan, harus mencari idaman lain diluar. Mengabdi hanya kepada Allah Swt. Agar ada tanda damai didalam hati manusia. Karena Allah Swt memang menyerukan untuk menerima maaf orangkan ?? kadang pertanyaan lain juga muncul karena ego yang ada dalam hati manusia. Kok enak benar. Padahal urusan Allah Swt yang merubah hati manusia. Manusia ini mahluk ciptaanNYA. Jadi DIA yang paling tahu bagaiman mengatur mahluknya. Yang aku harus lakukan adalah bersabar. Sabar , Sabar, Sabar padahal Al Quran menyuruh manusia untuk bersabar …………………. Kadang timbul tidak kepuasanan. Mengapa dan kenapa tolong beri jawabannya ?????? 

Ini mungkin cobaan atau ujian keimanan pada Allah Swt. Yang bisa terjadi setiap saat pada manusia. Hati ini rasanya masih dipenuhi ketidakpuasan. Sesak dada ini rasanya. Tapi memang begitulah Allah mengatur hidup kita. Kita akan membawa diri masing-masing di akhirat kelak, maka persiapkanlah diri kita. Perbaikilah diri kita. Karena kita akan dimintakan pertanggung jawaban kelak. Jangan sampai pertanyaan ”Mengapa kamu cerewet sekali untuk manusia, sementara kamu alpa akan dirimu sendiri ” Nah lho.

Padahal Allah Swt memberikan ujian sesuai kemampuan hambanya. Sementara bagaimana hambanya menyikapi dan menjalani. Pasrah dan tawakal, walau bukanlah yang mudah melakukannya. Tetapi kita harus mengatakan, kita bisa mengatasi jalan keluarnya. Allah Swt sedang mendidik dan memberikan yang terbaik dikemudian hari. 

Tentang rositaindrasari

Ibu 2 orang anak : Orchidita Lystia dan Pradita Rhagastra. Lulusan Sarjana Hukum Universitas Krisnadwipayana.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s