Rencana Allah Itu Pasti Indah

Tahun 2008,  saya bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang hukum. Selama bekerja, banyak mendapat ilmu dan kenalan pakar-pakar hukum dari Universitas Indonesia dari gelar Sarjana hukum sampai dengan Prof Dr. Dan bisa melihat cara mereka mengajar dan karakter mereka terhadap saya karyawati diperusahaan tersebut.Apakah mereka sombong atau ramah dengan ilmu mereka yang dipunyai.  Sepanjang bekerja dimarahin atasan suatu hal yang biasa. Walau kadang perkerjaan enggak berjalan sesuai harapan atasan. Dia hanya bisa menyalahkan kekuranganku. Padahal ada teman lain yang punya tanggungjawab pekerjaan tersebut. Tetapi hanya aku yang disalahkan, karena saya yang paling lama bekerja. Karyawan dan karyawati, sudah pada keluar masuk berhenti bekerja dan pindah bekerja di kantor lain. Yang lebih menyakitkanku, memakiku  didepan teman-teman dan teman kantor lain. Yang kebetulan satu rumah dengan dua kantor. Teman kantor yang lain, kadang sedih melihatku dimarahi dan dimaki-maki dengan kasar.

Bulan Agustus Tahun 2011, adalah perasaanku yang sudah mulai tidak nyaman dengan suasana kantor tersebut. Disetiap sholatku berdoa, minta jalan keluar yang terbaik harus gimana. Pertahan atau keluar dari kantor tersebut. Walau resiko keluar dari kantor tersebut membuat keuangan saya tidak nyaman. Sebagai singleparent, yang harus memberi makan dua anak dan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ada fotocopy tugas sekolah, harus berenang dan kepeldrum di rawamangun. Suatu tempat lapangan khusus untuk lari. Semua sekolah baik smp dan sma sejakarta timur, pasti olah raga lari kesitu. Butuh baju seragam yang mulai kekecilan atau sobek. Dan sumbangan-sumbangan sekolah yang harusku bayar. Belum ada 3 tanggungan anak asuh yang sudah tidak punya bapak. Dan ingin bisa memberikan uang kepada ibu saya tiap bulannya. Kalau dihitung matematika mana cukup uang tunjangan pemberian dari mantan suami. Bingung dan pusing, walau berusaha pasrah akan kehidupan ini. Dan berusaha menanamkan dengan shadaqah yang ikhlas, suatu saat akan ada jalan keluar yang disangka-sangka dari Allah Swt.

1 Desember 2011, akhirnya saya mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Jawaban shalat istikharah dan qiyamul lain, membuat tekad saya bulat. Dan saya terdampar di kantor hukum dan konsultan hukum, yang berbentuk LSM. Kasus hukum disana, kebanyakan orang yang tidak mampu membayar fee pengacara. Mereka hanya mampu membayar uang transport. Melihat situasi tersebut, cukup membuat saya terharu. Walau keuangan saya lagi tidak nyaman.

Proses ini  memakan waktu entah berapa lama. Saya tidak ingin ber-andai andai.  Namun, belajar Ikhlas adalah jawaban singkat untuk mengembalikan kepada sang Maha Penentu.  InsyaALLAH akan terlewati dengan baik  saatnya ada  proses kehidupan.

Optimis yang  aku tanamkan didalam hatiku dan harus ku sadari adalah :

Pertama, ALLAH MAHA PENENTU tidak semua yang kita inginkan bisa terjadi. Kita boleh berusaha sekuat tenaga, tapi pada akhirnya, ALLAH lahyang akan menentukan segalanya.

Kedua, Menjalin hubungan dengan Sang Maha Segalanya, jangan lupa untuk meminta DOA orang tua dan selalu mendoakan saudara kandung, saudara sepupu dan teman-teman yang kita kenal. Dan baik lapang maupun sempit tetap kutanamkan harus berinfaq. 

Ketiga, Keyakinan bahwa ALLAH punya rencana yang lebih baik dengan catatan kita tetap DOA dan IKHTIAR.  Kita harus percaya dan yakin bahwa semua itu sudah menjadi madrasah yang terbaik untuk kita tetap Istiqomah.

Kenyataan yang terjadi (begitu yang saya alami), betapa sekarang sulit untuk menerima kenyataan dari jalan-Nya, suatu saat kita akan sadari bahwa betapa Allah sesungguhnya menyayangi kita sebagai umatnya.

Keempat, YAKIN dengan kemampuan DIRI SENDIRI. Kitalah yang paling tahu apa yang terbaik untuk diri kita

Kelima, ingat DUIT = DOA, USAHA, IKHLAS dan TAWAKAL adalah hakikat dalam menajalani kehidupan ini

Ketika aku masih kelas 6 SD,  aku melihat temanku menyulam. Dan aku minta dibelikan perlengkapan sulaman tersebut. Dan ibuku mengajarkan cara menyulam strimin berbentuk bunga. Ia menerangkan bahwa  menyulam stimin butuh kesabaran serta harus telaten dan disesuaikan dengan warna-warnanya.  Kulihat dari bawah seperti benang ruwet dan kelihatan tidak indah.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut, “Anakku, lanjutkanlah menyulammu.  Sementara ibuku menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang lainnya. Setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.

Aku heran, mengapa menyulam menggunakan benang yang warna dan warni, begitu semrawut menurut pandanganku.  Setelah sebulan sulamku sudah selesai , tentu ada bantuan ibuku. Sebagai pemula mengerjakan sulaman bunga adalah kebahagianku. Karena hasil karyaku telah selesai dan aku merasa bangga. Aku mendengar suara ibu memanggil.  “Anakku, mari kesini dan duduklah ” Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga matahari yang sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu berkata, “Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain strimin ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, kamu dan ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang kamu dan ibu lakukan.”

Sering selama bertahun-tahun, menjalankan kehidupan ini setelah aku menikah dan Allah Swt memberikan amanah dan tanggungjawab kepadaku dua orang anak putri dan putra. Setelah menjalani hidup berumah tangga selama 11  tahun  akhirnya bercerai.  Keputusan perceraian ini harus kujalani, bila masing-masing sudah tidak nyaman dan keluarga suamipun mendukung perceraian tersebut. Selama sholat istikhorah dan qiyamul lail, pun saya minta kepada Allah Swt keputusan yang terbaik untuk kami berdua. Ternyata, aku selalu ragu dan bimbang untuk kembali kepada suami. Ada perasaan sedih tapi harus kujalani dari hari, minggu, bulan dan tahun ketahun. Untuk membesarkan kedua anakku dan memohon pada Allah Swt, agar aku bisa menjadi ibu yang sabar dan ibu yang penuh kasih sayang kepada anak-anakku.
Aku melihat ke atas dan kadang merenung dan  bertanya kepada Allah dibenak pikiranku, ”Allah, apa yang Engkau rencanakan untukku ? ” Dan jadikan aku ridho akan setiap keputusanMU.  Ia menjawab, ” Aku sedang menyulam kehidupan anak manusia dibuka bumi ini.” Sikap umum manusia dalam menjalani kehidupan yang tidak enak dijawab.
Dalam firman Allah Swt : 
“Wabasysyirish shaabiriin (dan berilah kabar gembira bagi mereka yang sabar).” Maksudnya bahwa sayarat untuk lolos dari setiap musibah adalah sabar: sabar mentaati Allah, sabar menjauhi kemaksiatan dan sabar menjalani ujian-Nya
Kumencoba merenungkan perjalanan diriku dengan firman Allah Swt  ini :
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman (dengan sebenar-benarnya iman) hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS : An Nisaa’ [4] : 65).
Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”
Dijawab dengan Firman Allah Swt yang lain :  

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya”. (QS : Al Baqoroh [2] : 286).

وَلا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya”. (QS : Al Mukminun [23] : 62).

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertaqwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan kalian”. (QS : At Taghobun [64] : 16).

 

Kemudian Allah menjawab, “Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini..”

Kutanamkan didalam hati bahwa tidaklah Allah memerintahkan kita untuk bertaqwa kepadaNya (sabar menghadapi cobaan dan takdir Allah merupakan bagian dari taqwa) melainkan sesuai kemampuan kita. Demikian juga tidaklah Allah membebankan pada hambaNya sebuah beban melainkan sesuai dengan kesanggupan mereka.
Sampai satu saat nanti AKU akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.
Subhanallah, beruntunglah orang-orang yang mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di dunia ini. Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam hati hambaku agar dapat memaknai kejadian-kejadian dalam perjalanan hidupnya, seruwet apapun itu. Amin….

Demikian hal yang sama Allah lakukan… Allah telah membuat pola yang indah untuk kehidupan kita… Pada waktu menjalani ‘pola Allah’ memang tidak mudah… Tetapi bila bersabar…pada saatnya anda akan melihat keindahan itu

Tentang rositaindrasari

Ibu 2 orang anak : Orchidita Lystia dan Pradita Rhagastra. Lulusan Sarjana Hukum Universitas Krisnadwipayana.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Rencana Allah Itu Pasti Indah

  1. semoga Allah SWT menganugerahkan kekuatan dan keimanan untuk tetap istiqomah dijalanNYA, amin YRA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s