Cita – Cita Anakku Yang kedua

Main basket dekat rumah lama kami di Pondok Kelapa
Kav. Marinir, Jakarta – Timur.

Aku mengandungnya selama 9 bulan, melahirkan dengan normal tanpa operasi. Dia bernama Pradita Rhagstra, lahir dengan berat badan 4,150 gr dan panjangnya 53 cm. Diantara bayi yang lahir di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kampung Melayu, Jakarta – Timur. Dia bayi yang paling besar dan kulitnya coklat benar. Kebahagian seorang wanita yang diberikan kesempatan untuk mempunyai anak. Walau anak adalah amanah dan tanggungjawab yang tidak mudah. Dan diberikan kesempatan melahirkan anak laki-laki. Anak pertamaku perempuan, rasanya lengkap sudah sepasang anakku.

Tak terasa usianya semakin bertambah. Dan tipe anakku yang nomor dua itu rewel. Selalu mengkritik masakan mamanya. Kalau masakannya kurang asing atau keasinan, dia pasti komentar. Tapi kalau masakannya enak, pasti juga memberikan pujian kepada Mamanya. Masakan mama enak benar, tapi pasti anak kata tumben pas rasanya. Hahahahaha, beginilah anak jaman sekarang. Waktu, saya kecil tidak berani mengkritik masakan orang tua. Tinggal makan, suka atau tidak suka pasti harus dimakan.

Saya berikan nasehat kepadanya. Nabi Muhammad Saw seorg rasullullah tidak pernah mengkritik masakan para istrinya. Karena dia menjaga perasaan istrinya. Dan menerima apa adanya. Jawabannya kan beda. Beginilah anak jaman sekarang.

Begitu juga dengan cita-citanya. Sebagai seorang ibu melihat perkembangan tubuhnya. Dia tinggi untuk usianya, saya selalu mensuport untuk mendalami bidang olah raga. Enggak berprestasi dibidang akademi tapi ada prestasi dibidang olah raga.

Cita-citanya kebetulan berubah2, pertama dia kepingin ikut PPA BCA dan ingin mengambil kuliah di Ekonomi Universitas Gama Mada – Yogjakarta – Jawa Tengah. Aduh, rasanya terlalu jauh kepinginnya sebagai orang tua kuliahnya di Universitas Indonesia Fakultas Ekonomi. Insya Allah mama doakan menuju cita-citamu. Mana yang terbaik PPA BCA atau Universitas Indonesia. Semuanya kita serahkan kepada Alllah Swt.

Namun kemarin, dia bercerita. Mama aku malas ngambil kuliah di Fakultas Ekonomi. Males menghitung. Aku kuliah di Fakultas Olah Raga aja UNJ. Apa alasannya. Dia, menjawab jadi guru Olah Raga, enak, kaya punya rumah dan mobil. Seperti, guru SMPN 194. Hahahahahaha, enggak tahu, saya sebal banget sama guru olah raga dan orang tua murid yang lain. Enggak tahu, seperti cari tambahan gaji. Tiap bulan anak-anak ikut lari dipeldrum – Ramawangun dan Renang. Itu setiap minggu. Tiket ke peldrum : Rp.10.000,- dan tiket berenang Rp. 12.500. Ongkos kepeldrum sekali jalan Rp.25.000,- belum ongkos berenang. Rasanya sebagai orang tua kesal banget sama tuh guru olah raga. Bener-benar cari tambahan gaji.  Berapa harga tiket masuk tiap-tiap kelas dan dikalikan semua murid. Benar-benar, cari tambahan. Mau protes, dilarang sama anakku. Tapi tidak selamanya orang tua punya uang. Apalagi kalau tanggung bulan.

Aduh pusing deh, mendengar cita-cita anakku jadi guru olah raga karena ada tambahan gaji dari tiket peldrum dan renang. Saya sebagai orang tua , yakin benar pasti guru ada discount membeli tiket tersebut. Enggak enak, jadi guru olah raga tapi diomongin orang tua murid. Apalagi, bila seluruh sekolah ngedumel. Waktu anak saya kelas X smp, orang tua murid kelas VII protes karena biaya masuk kepeldrum ramawangun sebesar Rp.20.000.-

Ya Allah, kupanjat doa kepadamu. Berikan petunjuk yang terbaik untuk dunia dan akhirat cita-cita anakku. Aamiin.

Tentang rositaindrasari

Ibu 2 orang anak : Orchidita Lystia dan Pradita Rhagastra. Lulusan Sarjana Hukum Universitas Krisnadwipayana.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s